Selasa, 26 November 2019

KURANGNYA MOTIVASI BELAJAR SISWA


Apa sih penyebab kurangnya motivasi belajar pada Siswa Sekolah ?

yuk kita simak 👇

Motivasi diri untuk terus belajar ialah hal yang sangat penting bagi siswa sekolah, karena motivasi tersebut akan menggugah anak untuk terus bersemangat dalam belajar. Begitu juga tanpa motivasi tersebut, siswa sekolah akan merasa sulit untuk memahami materi yang telah dijelaskan oleh guru.

Pada kenyataannya kurangnya motivasi diri untuk belajar pada siswa sekolah ternyata menjadikan masalah yang begitu membingungkan bagi guru, misalnya banyak siswa menghabiskan tidur selama pelajaran berlangsung, siswa mengabaikan penjelasan guru, dan lain-lain. 

Ada yang harus kita ketahui apa penyebab kurangnya motivasi diri bagi siswa sekolah untuk tetap aktif dalam kegiatan belajar mengajar :

  1. Guru Tidak Memberikan Motivasi Kepada Siswa

Pertama yang perlu dilakukan sebagai guru adalah mengevaluasi diri sendiri, apakah anda saat ini sudah sering memberikan motivasi kepada siswa?.

Guru di sekolah bukan hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator bagi siswanya.

   2.  Siswa Tidak Menyukai Cara Pengajaran Guru

Kurangnya motivasi siswa dalam belajar di dalam kelas juga bisa disebabkan karena gaya dan cara penyampaian materi oleh guru. Siswa pastinya akan merasa bosan dengan metode pengajaran yang monoton, penyampaian materi yang sulit dipahami, kurangnya melibatkan media belajar, dan lain-lain.

  3. Siswa Tidak Menyukai Mata Pelajaran Tertentu

Setiap siswa di sekolah memiliki keahlian dan bakat masing-masing, khususnya dalam materi pelajaran tertentu. Ada siswa yang benar-benar tidak bisa menguasai materi pelajaran tertentu meskipun dia sudah memaksakan diri untuk belajar. 

  4. Lemahnya Motivasi Dalam Diri Siswa Sendiri

Faktor utama yang dialami oleh kebanyakan siswa sekolah saat ini, yaitu lemahnya motivasi diri untuk belajar. 

Sehingga hal ini menyebabkan siswa sekolah kurang berminat untuk belajar dan menghabiskan 3 tahun di sekolah dengan sia-sia. 

 5. Kurangnya Perhatian Orang Tua di Rumah

Orang tua menempati peran yang sangat penting sebagai motivator bagi pendidikan anak, karena secara tidak sadar, apapun yang berasal dari orang tua baik, baik sifat maupun sikap, akan menjadi panutan anak, begitu pula dalam masalah pendidikan anak. 

 6. Pergaulan Buruk

Siswa yang bergaul dengan teman-teman nakal, baik di rumah maupun di sekolah, pastinya akan terjerumus dalam kenakalan pula. 

 7. Faktor Kemajuan Teknologi

Tidak bisa terbantahkan bahwa kemajuan hebat teknologi memang membawa kemudahan pada setiap aktivitas manusia. 

Budaya-budaya luar yang terselip dalam fasilitas internet, progam-progam kurang mendidik di TV, game dan media dalam handphone, dan lainnya, semua itu menyibukkan aktivitas siswa sekolah sehari-hari sampai melupakan belajar. 

*Semoga ilmunya bermanfaat 😊

Sabtu, 23 November 2019

TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BK


Penggunaan Teknologi Informasi dalam Bimbingan dan Konseling

Penggunaan teknologi informasi khususnya komputer kini sudah menjadi mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah, mulai sekolah dasar hingga ke sekolah lanjutan atas dan sekolah kejuruan. 

Dengan teknologi ini mahasiswa atau siswa bisa mengikuti matakuliah dengan baik, karena materi yang disampaikan selain mengandung materi yang berbobot juga mengandung unsur multimedia yang bisa menghibur.  Dengan bantuan komputer yang dihubungkan dengan multimedia projeck seorang dosen tidak perlu menekan tombol keyboard atau papan ketik melainkan cukup menekan remote control yang dipegangnya.

Penggunaan teknologi informasi sebagai media bimbingan dan konseling memiliki beberapa keuntungan seperti yang dinyatakan oleh Baggerly sebagai berikut:
  1. Meningkatkan kreativitas, meningkatkan keingintahuan dan memberikan variasi, sehingga kelas akan menjadi lebih menarik.
  2. Akan meningkatkan kunjungan ke website, terutama yang berhubungan dengan kebutuhan siswa.
  3. Konselor akan memiliki pandangan yang baik dan bijaksana terhadap materi yang diberikan.
  4. Akan memunculkan respon yang positif terhadap penggunaan e-mail.
  5. Tidak akan memunculkan kebosanan.
  6. Dapat mengakses berbagai data melalui website dan pengaturannya baik.
Fungsi dan Peraanan Teknologi Informasi dalam Bimbingan dan Konseling

Seperti kita ketahui bahwa saat ini bimbingan konseling belum dikatakan materi, sehingga tidak semua sekolah di Indonesia memberikan jam yang cukup untuk materi bimbingan konseing ini, karena berbagai alasan.

Aplikasi teknologi informasi dalam bimbingan konseling adalah memberikan informasi kepada klien tentang apa yang dibutuhkannya. Selain itu, sarana yang diberikan oleh teknologi informasi itu sendiri,  memungkinkan antar pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok lainnya dapat bertukar pikiran. 

Teknologi informasi pun dapat meningkatkan kinerja dan memungnkinkan berbagai kegiatan untuk dilaksanakan dengan cepat, tepat dan akurat, sehingga pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja konselor itu sendiri.

Teknologi informasi memiliki beberapa fungsi dan peranan umum dalam Bimbingan konseling yaitu:
1.      Publikasi
Teknologi informasi dimanfaatkan sebagai sarana pengenalan kepada masyarakat luas dan juga sebagai pemberi informasi mengenai BK serta implementasi layanannya.

2.      Pelayanan dan Bantuan
Teknologi informasi dimanfaatkan sebagai sarana pendukung untuk menciptakan layanan yang lebih kreatif dan inovatif. Contohnya: penggunaan media power point dan video dalam melakukan bimbingan kelompok sesuai dengan jenis masalah yang ingin diselesaikan.

3.      Pendidikan
Informasi yang diberikan melalui sarana TI ini mengandung unsur pedidikannya. Contohnya: layanan BK berbasis website yang menyajikan beragam tema tentang pengembangan pendidikan karakter.

Banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh dari teknologi komputer dalam menunjang profesi kerja konselor, maka konselor perlu mengetahui potensi apa yang terkandung pada teknologi komputer. 

Layanan bimbingan dan konsling tidak selalu face to face atau tatap muka. Terdapat layanan yang lebih mudah yaitu dengan cyber counseling yang memungkinkan konseli tidak merasa malu/canggung yang bisa dilakukan kapan dan dimana saja.

Minggu, 17 November 2019

KEKERASAN TERHADAP ANAK

Banyak sekali kita dengar adanya kekerasan terhadap anak dikarenakan hal hal yang tidak di sangka oleh kedua orang tua atau keluarganya.

Kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, atau pengabaian terhadap anak. 

Kekerasan anak bisa berbentuk penganiayaan, anak sebagai setiap tindakan atau serangkaian tindakan kelalaian oleh orang tua yang dihasilkan dapat membahayakan, atau memberikan ancaman yang berbahaya kepada anak.

Sebagian besar terjadi kekerasan terhadap anak di rumah anak itu sendiri dengan jumlah yang lebih kecil terjadi di sekolah, di lingkungan atau tempat anak saat berinteraksi. Ada empat kategori utama tindak kekerasan terhadap anak: pengabaian, kekerasan fisik, pelecehan emosional/psikologis, dan pelecehan seksual anak.

Kekerasan terhadap anak ada beberapa jenis utama yaitu kekerasan secara fisik, seksual, psikologis, dan penelantaran.


  • Penelantaran


Dimana orang dewasa yang bertanggung jawab gagal untuk menyediakan kebutuhan untuk berbagai keperluan, termasuk fisik (kegagalan untuk menyediakan makanan yang cukup, pakaian, atau kebersihan), emosional (kegagalan untuk memberikan pengasuhan atau kasih sayang), pendidikan (kegagalan untuk mendaftarkan anak di sekolah), atau medis (kegagalan untuk mengobati anak atau membawa anak ke dokter).

  • Kekerasan Fisik


Kekerasan fisik adalah agresi fisik diarahkan pada seorang anak oleh orang dewasa. 

Hal ini dapat melibatkan meninju, memukul, menendang, mendorong, menampar, membakar, membuat memar, menarik telinga atau rambut, menusuk, membuat tersedak atau menguncang seorang anak.

  • Pelecehan Seksual Anak


Pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak di mana orang dewasa atau pelanggaran yang dilakukan oleh remaja yang lebih tua terhadap seorang anak untuk mendapatkan stimulasi seksual.

Bentuk pelecehan seksual anak termasuk meminta atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual (terlepas dari hasilnya), paparan senonoh dari alat kelamin kepada anak, menampilkan pornografi kepada anak, kontak seksual yang sebenarnya terhadap anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak, melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik, atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak.

  • Pelecehan Emosional

Pelecehan emosional yaitu yang paling sulit untuk didefinisikan. Itu bisa termasuk nama panggilan, ejekan, degradasi, perusakan harta benda, penyiksaan atau perusakan terhadap hewan peliharaan, kritik yang berlebihan, tuntutan yang tidak pantas atau berlebihan, pemutusan komunikasi, dan pelabelan sehari-hari atau penghinaan.



Referensi: 
https://id.wikipedia.org/wiki/Kekerasan_terhadap_anak

Selasa, 12 November 2019

TAWURAN PELAJAR

   


Tawuran yang sering dilakukan pada sekelompok remaja terutama oleh para pelajar seolah sudah tidak lagi menjadi pemberitaan dan pembicaraan yang asing lagi ditelinga kita. 

Dalam kamus bahasa Indonesia “tawuran” dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga pengertian tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar.

Tawuran pelajar adalah modus baru kejahatan di kota-kota besar. Mereka bergerombol/ berkumpul di tempat-tempat keramain (halte, mall-mall, jalan-jalan protocol) siap mencari lawannya, tetapi tak jarang sasaran mereka justru pelajar sekolah yang tidak pernah ada masalah dengan sekolahan mereka. 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan tawuran pelajar, diantaranya :

1. Faktor Internal

Faktor internal ini terjadi didalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya dan semua pengaruh yang datang dari luar. Remaja yang melakukan perkelahian biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal ialah faktor yang datang dari luar individu, yaitu faktor dari keluarga, faktor dari sekolah, faktor dari lingkungan.

Anak-anak pelajar adalah remaja harapan bangsa, yang akan menggantikan para pemimpin bangsa ini. Peran sekolah, lingkungan, orangtua dan pemerintah merupakan satu kesatuan yang harus bertanggung jawab dan bekerjasama dengan baik untuk menanggulangi ini semua.



Referensi :
https://aisyatunnurlaelyshare.wordpress.com/education/tawuran-pelajar/